Psikologi

Postur Mental
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 07 November 2003

Dimasa kejayaan Mike Tyson, hampir setiap orang di seluruh dunia pasti akan menilai bahwa kemenangan pertandingan diberikan kepada para penantang, sebab kenyataannya jarang seklai penantang yang bertahan sampai ronde akhir melawan si “leher beton” itu. Malah ada yang dirobohkan hanya dalam hitungan detik. Sosok Tyson dibentuk oleh citra sebagai petinju tanpa tanding seakan-akan ia adalah makhluk “pengecualian”. Hingga kemudian Hollyfield menerima tawaran bertanding dengan si leher beton itu. Masih segar dalam ingatan kita, Hollyfield ternyata mampu mengalahkan Tyson. Sejak saat itu citra tentang Tyson yang telah didefinisikan oleh masyarakat dunia setidaknya tidak lagi mengarah pada sosok pengecualian atau tanpa tanding.

Bagaimana Hollyfield bisa mengalahkan Tyson? Dari ungkapannya saat perang mental berlangsung yang dilansir oleh sebagian besar media massa dunia, kata-kata Hollyfield yang pantas dicatat adalah: “Saya akan menggunakan rasa takut untuk melawan”. Dari sejumlah komentar pengamat di bidang tinju dapat disimpulkan bahwa rasa takut itulah yang mengilhami Hollyfield menemukan jurus mempertemukan keunggulan dirinya dengan kelemahan Tyson. Jurus gerilya: menyerang dan menjauh ternyata efektif karena Tyson punya jangkauan pukulan lebih pendek. Itulah gambaran yang secara filosofi dapat dijabarkan bahwa menang dan kalah tidak ditentukan semat-mata oleh ukuran besar-kecil sosok lawan tetapi oleh strategi mempertemukan keunggulan melawan kelemahan: strength against weakness.

Posisi Mental

Tak bisa dipungkiri, semua orang membutuhkan strategi mempertemukan keunggulan diri guna melawan kelemahan lawan. Belajar dari pertandingan tinju di atas, kemenangan atau kekalahan dalam menghadapi problem sebenarnya tidaklah diukur oleh besar-kecil problem yang mayoritas telah didefinisikan oleh pencitraan umum sebagai suatu persoalan yang sulit, tidak mungkin atau sudah dicoba banyak orang tetapi gagal. Kenyataannya kemenangan dihasilkan oleh strategi bagaimana anda mendifinisikan keunggulan di dalam dan kekurangan di luar sehingga mampu memilih posisi untuk menempatkan postur diri (disebut juga postur mental) secara tepat di hadapan problem. Postur Diri adalah posisi mental tertentu yang anda gunakan dalam melihat suatu persoalan.

Secara umum posisi mental setiap orang dapat dikategorikan sebagai berikut:

a. Pemenang

Problem mempunyai konstruksi seperti gajah dan mayoritas orang menempati posisi mental seperti dilakukan orang buta yang meraba gajah tersebut. Dengan posisi mental demikian maka apa yang didefinisikan tentang problem tidak bisa menjabarkan sisi mana yang lebih sederhana dan lebih dulu diselesaikan kecuali hanya dimiliki oleh sedikit orang dengan posisi pemenang.

Jika merujuk pada identifikasi Dr. R.M. Bucke dalam bukunya Cosmic Consciousness (Performance Unlimited: 1998), maka karakteristik dominan dari seorang postur pemenang adalah sebagai berikut:

Realistik – menempatkan posisi mental berada di atas realitas, tidak tenggelam di dalamnya.
Mengakui – menerima diri, orang lain dan keadaan dengan ‘understanding as they are’
Sederhana – mampu menempatkan diri secara tepat: tidak kurang dan tidak lebih
Problem Solving – melihat persoalan dari partikulasi atau sudut yang paling mungkin untuk diselesaikan.

Dengan posisi mental sebagai pemenang maka sangat dimungkinkan bahwa individu akan menghasilkan kemenangan di akhir pertandingan melawan problem hidupnya. Setidaknya pun ia masih belum menang secara total tetapi setidaknya sudah bisa mengalahkan mentalitas kalah di dalam dirinya.

b. Pecundang

Posisi mental kalah atau pecundang adalah kualitas mental yang melihat problem sebagai the absolute truth of problem, sebuah alasan yang dijustifikasi dan bukan tantangan yang menuntut solusi. Kekalahan itu bisa diekspresikan dengan penolakan dalam bentuk kerelaan hilangnya harga-diri sebagai manusia normal. Postur pecundang ini tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup berbasis problem yang melihat kenyataan dengan lensa problem. Menurut Patrice Steen dan John Robson dalam artikelnya Choose What You Want in Life (Higher Awareness – Inner Journey Newsletter: 2001) karakteristik dari gaya hidup berbasis problem adalah:

Ketakutan terhadap sesuatu
Terintimidasi harapan pihak lain
Kebiasaan yang salah dalam menangani masalah
Perilaku reaktif semata

Dampak paling buruk dari postur pecundang adalah kerelaan hilangnya harga diri. Kerelaan ini kalau didukung dengan keberanian akan menghasilkan tindakan yang tidak saja merugikan diri sendiri melainkan tindakan brutal yang menghalalkan segala cara dan tentu saja merugikan orang lain.

c. Pasrah

Postur ini secara kualitatif berada di antara kedua postur di atas atau lebih tepatnya dikatakan postur berpotensi menang atau kalah, tergantung kemauannya untuk berkembang. Ciri khas yang paling menonjol adalah mempermasalahkan masalah yang sednag emnimpanya sebab bagi dirinya masalah adalah sebatas apa yang ia rasakan tidak enak. Biasanya ia sama sekali tidak mengambil prakarsa solusi secara keseluruhan atau bagiannya sebab merasa orang lain di dekatnya lebih mampu. Merujuk pada pendapat Andrew Wood dalam bukunya Life’s Champions (Hammond e-Resource: 2002) penyebab dari postur ini adalah kekurangan perangkat sumber daya berupa: pengetahuan atau ketrampilan.

Bagaimana Menjadi Pemenang?

Prinsip dasar pembelajaran-diri adalah manusia dilahirkan untuk menyelesaikan semua bentuk problem: difficulty, dilemma, puzzle, atau mystery. Sesuai dengan perubahan dan kemajuan maka kompleksitas tiap bentuk pun bertambah sehingga mau tidak mau menuntut perbaikan kemampuan menciptakan solusi secara terus-menerus untuk menjadi lebih baik. Posisi mental pemenang dihasilkan dari upaya pembelajaran-diri secara terus menerus, perbaikan dan peningkatan dari beberapa materi berikut:

1. Membangun karakter

Tak aneh kalau dikatakan hidup adalah permainan yang diperagakan di atas panggung di mana masing-masing orang memainkan peranannya. Posisi mental pemenang merupakan cerminan karakter mental menang dan karakter menang didasarkan pada sejauhmana anda menjiwai naskah asli anda. Orang yang memahami secara utuh siapa dirinya dengan peranan yang harus dimainkan, memahami bagaimana lingkungan dan masalah yang dihadapi maka akan menghasilkan karakter superior di mana ia menginjakkan kaki di atas bumi realitas tanpa was-was, atau rasa khawatir atas ancaman yang muncul dari sesuatu yang tidak diketahui atau virus “Jangan-jangan kalau…”

Dalam menghadapi bentuk dan jenis problem yang sama masing-masing individu bisa memiliki karakter berbeda: kalah – menang. Karakter kalah sudah lebih dulu dikuasai oleh citra yang dibuat sendiri atau kerelaan menerima secara utuh definisi atau citra dari orang lain bahwa postur problem yang dihadapi lebih besar dan tidak lagi terbuka celah untuk dilumpuhkan. Semakin lama mentalitas inferior itu menduduki wilayah kekuasaan seseorang atas hidupnya maka akan menjelma menjadi bentuk penyikapan: “The I cannot attitude”.

Memiliki posisi mental pemenang atas problem yang anda hadapi diawali dari upaya kristalisasi karakter mental menang bahwa diri anda lebih besar dari problem; bahwa jumlah solusi yang mampu anda temukan lebih banyak dari jumlah problem yang anda hadapi; bahwa anda memahami siapa diri anda: kekuatan, kelemahan, dan apa yang akan dilakukan. Karakater inilah yang harus terus-menerus anda bangun.

2. Membangun keyakinan

Menghadirkan posisi pemenang atas problem mutlak membutuhkan keyakinan atas kemampuan diri (self confidence – PD). Self Confidence dibentuk dari sejumlah alasan faktual tentang kemenangan masa lalu anda atas berbagai persoalan. Semakin banyak kesuksesan masa lalu yang anda kumpulkan akan menjadikan anda semakin “PD” menghadapi persoalan sekarang. Meskipun secara data tehnis bisa jadi berbeda antara problem masa lalu dan sekarang tetapi yang perlu anda kembangkan adalah karakter mental dan rasa percaya diri.

Selain rasa percaya diri, bentuk keyakinan yang perlu anda kembangkan adalah keyakinan atas kekuatan yang menjadi sumber segala kekuatan di luar diri anda, keyakinan nilai yang gaib dan tak terlihat (invisible) atau keimanan pada Tuhan. Orang yang tidak punya keyakinan bahwa dirinya dilindungi, dibantu, dijamin perbuatannya tidak sia-sia, maka postur diri yang dihasilkan adalah postur pasrah atau kalah. Persoalannya adalah bagaimana orang bisa “mendekati” Tuhan sehingga kekuatan-Nya yang begitu besar tidak dimubazirkan oleh cara memahami yang kurang sesuai. Secara mekanisme, sejumlah agama di dunia mengajarkan pendekatan dengan doa, yang secara ilmiah membuktikan bahwa keyakinan dan doa berperan seperti sayap. Kalau anda tidak punya sayap, bagaimana mungkin terbang di atas realitas?

3. Membangun dukungan

Dukungan orang lain adalah power bagi anda untuk menghasilkan posisi mental pemenang. Tetapi mendapatkan dukungan adalah akibat (the effect) dari usaha anda menciptakan alasan bagi orang lain bahwa anda layak didukung. Semua itu perlu dimulai dari dalam guna membangun kepercayaan dan kredibilitas secara moral dan professional. Moral adalah manifestasi kepribadian yang dibentuk oleh nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keikhlasan, pengabdian dan lain-lain, sementara profesionalitas adalah penguasaan ketrampilan atau pengetahuan khusus.

Untuk mendapatkan dukungan secara utuh, sebaiknya anda menjalankan program kelayakan dipercaya secara bersamaan: moral dan professional. Sebab kenyataan membuktikan bahwa kelayakan yang dibangun hanya dari salah satu unsur itu menyimpan kata “tetapi� di akhirnya yang menandakan tidak utuh: Anda jujur tetapi…? Atau anda pintar tetapi…..?

Membangun postur diri adalah pencapaian kualitas mental dalam menghadapi problem kehidupan dari waktu ke waktu. Prinsip yang paling mendasar adalah probem bukanlah “the absolute truth of fact” tetapi murni “the shadow of mindset” yang menyisakan sekian banyak sudut pandang. Kemenangan dan kekalahan dalam melawan problem bukan ditentukan oleh ukuran besar-kecil problem akan tetapi posisi mental yang kita pilih secara rasional untuk mengambil posisi mental pemenang. Sebab fakta alamiah menunjukkan bahwa semakin “besar” ukuran seseorang semakin besar pula ukuran problem yang dihadapi. Selamat mencoba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: